“SEBUTIR
KERIKIL DALAM KELUARGA KECILKU”
Pada suatu hari Clarisa anak bungsu dari keluarga kecil Pak Nugroho terlambat pulang
sekolah, orangtuanya pun merasa khawatir, menunggunya dirumah. Setibanya gadis remaja itu dirumah, sang ibu langsung
menghampiri dan bertanya dengan nada agak tinggi
kepada anaknya, “ Kenapa baru
pulang jam segini? dari mana saja ? Disekolahkan jauh-jauh kok sukanya
keluyuran”. Sang anak yang sudah merasa lelah bersekolah jauh ke kota, ditambah
peristiwa yang membuat ia terlambat pulang ke rumah, ditambah emosi ibunya yang
meluap karena khawatir pun membuat perasaan gadis ini jengkel, lelah, sedih,
dan ikut emosi.” Ibu itu tidak punya kata yang lebih buruk lagi ya, untuk
menyambutku?’ Clarisa pun lari masuk
menuju kamarnya sambil menahan air mata mengalir di wajahnya.
Sebelum sampai
kekamarnya, ia bertemu dengan sang ayah di ruang tengah. “ kamu sudah pulang sayang?
kami sekeluarga mengkhawatirkanmu”. Sang anakpun terhenti di pelukan sang ayah
dan menangis terisak.” Loh…sebenarnya apa yang telah tejadi?”, tanya sang ayah pada anak gadisnya itu.
Clarisa tidak menjawab dan semakin memeluk erat sang ayah, dan sang ayah pun
merasa anaknya masih terlalu sedih untuk menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba sang
ibu datang dan sedang naik pitam mendengar jawaban sang anak tadi. Namun
setelah melihat anaknya menangis terisak dipelukan sang ayah pun, membuatnya
tenang dan sedikit meredam amarahnya.
Setelah Clarisa
lega dan berhenti menangis, ia melepaskan pelukan erat pada ayahnya. “ sekarang
masuk kamar dan mandilah kami akan menunggumu di meja makan, untuk makan malam”
kata sang ayah, sambil menatap hangat anaknya. “ maaf ayah, aku tidak lapar dan
lelah, aku ingin segera istirahat setelah mandi”, jawab Clarisa. “ hai apa
maksudmu berkata se..” sahut ibu yang mulai naik pitam lagi, “ stttt, tenanglah
sayang biarkan anak kita beristirahat dan menenangkan diri, sudah lekas mandi sayang
ini semakin larut”. Clarisa pun meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar.
Di ruang
keluarga, terlihat sosok ayah dan ibu yang sedang berbincang dengan serius. “
kenapa kau terus memanjakan anak gadisku?” Tanya sang ibu dengan emosi,
sebenarnya sang ibu emosi
karena terlalu khawatir pada anak gadisnya itu. “ tenanglah Caecilia, dia juga
gadis kecilku, yang tengah beranjak dewasa. Sehingga wajar jika ia punya
masalah-masalah dalam dunia baru yang baru saja ia masuk, dia sudah SMA. Biarkanlah
ia menenangkan diri dahulu. Sang ibu terdiam, setelah mendengar nasihat suaminya
itu, lalu sang ayah melanjutkan berbicara setelah melihat istrinya mulai tenang dam tidak emosi lagi. “ Aku jadi
teringat sebuah berita di koran, seorang janda hidup dan tinggal besama anak
gadis kecil sematawayangnya yang baru berusia kurang lebih 5 tahun. Mereka
adalah keluarga yang tidak mampu, sang ibu hanya bekerja sebagai tukang kue
keliling pada pagi ia membuat kue dan pada siang hari ia menjualnya hingga
petang atau malam hari, sampai kuenya terjual habis. Penghasilan itu hanya
cukup untuk menyewa kontrakan kecil dan makan mereka sehari-hari.
Suatu hari
dimusim dinging, salju sudah mulai turun dengan lebat, siang itu sang ibu yang
sudah lelah membuat kue hendak berangkat berjualan, namun ia mencari gadis
kecilnya. Karena, biasanya sang anak ikut berkeliling dengannya. “ mana gadis
kecil itu? Tidak tahu apa ibunya sudah sangat lelah setiap hari membuat kue dan
hendak berjualan untuk mencari makan demi dia. Pasti sekarang ia sedang asyik
bermain dengan teman-temanya, dasar tidak tahu diri.” Sang ibu pun mengumpat
karena emosi dengan gadis kecilnya itu,
Kemudian karena
marah sang ibu pun mengunci pintu rumah mereka, padahal salju sudah turun. “
rasakan, dasar anak nakal akan ku beri pelajaran untukmu”. Pada malam hari,
setiba sang ibu di rumah setelah pulang berjualan Ia terperanjak kaget bukan
main. Melihat ada sesok tubuh gadis kecil yang kaku terbaring di depan pintu
rumahnya, sang ibu pun langsung berlari dan memeluk gadis itu erat untuk
menghangatkannya, karena ia tahu gadis itu adalah anaknya. Namun sang ibu
telambat datang, anaknya sudah tiada.
Dan sang ibu pun menggoyang-goyangkan tubuh
gadis itu, berharap gadisnya hanya tertidur. Tiba-tiba ada sebuah bungkusan
terjatuh dari katung baju anaknya, ia membuka benda yang dibungkus dengan Koran
itu, dan berisi sebuah roti kesukaan sang ibu. Roti itu biasa mereka beli, saat
ada uang lebih. Dan ada lagi secarik kertas yang bertuliskan “ selamat ulang
tahun ibu “, dengan huruf kanji yang ditulis masih berantakan, sang ibu tahu
bahwa itu adalah tulisan anaknya yang masih kecil.
Sang ibu pun menangis terisak, melihat anaknya
yng meninggal karena amarahnya. Padahal anak itu pergi untuk membeli dan
menyiapkan hal manis itu untuknya. Sayang, kamu tahu apa makna dari kisah itu?
Mengapa aku menceritakannya kembali padamu?”. Tanya sang ayah pada istrinya,
Ibu Caecil hanya terdiam dan tak lama kemudian ia mulai menitihkan air mata. “
aku hanya khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis kecil kita, aku sadar
aku salah harusnya aku tidak terpancing emosi dahulu tadi”. “ tidak apa-apa
sayang, kita hanyalah seorang manusia
yang tidak sempurna, kita di pertemukan oleh Tuhan untuk saling menjaga dan
melengkapi kekurangan masing-masing”, jawab sang ayah dengan bijak.” Sayang
terimaksih banyak, untung saja kamu tadi menahanku kalau tidak pasti aku
menjadi ibu yang lebih buruk dari ibu yang tadi” kemudian sang ayah pun memeluk
dan mencium kening istrinya, karena ia bahagia istrinya dapat mengerti
perasaannya dan anaknya.” Sekarang aku akan ke kamar Clarisa dan meminta maaf”,
kata sang ibu yang sekarang merasa menyesal telah menuduh anaknya.
Di kamar
Clarisa, ia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat sang kakak laki-laki
telah berbaring di ranjangnya. “aku tadi
mendengar, suara pintu kamarmu terbuka dan langsung tertutup jadi aku tahu,
pasti adik manisku ini pasti sudah pulang”, kata Benecditus kakak laki-laki
Clarsa. “pasti kau juga mendengar saat aku bertengkar dengan ibu dan menangis
tadi”, jawab Clarisa yang masih kesal. “aku tidak peduli kau habis bertengkar
dengan siapa, yang terpenting sekarang adalah kau telah pulang ke rumah dengan
selamat dan tak berkekurangan apa pun, tunggu dulu…..” ( hening sejenak)” ada
apa kak?”, Tanya Clarisa bingung, “ kau…kau…( sambil beranjak dari kasur dan
mendekati adiknya) kau… tambah manis saja setelah menangis”( sambil mencubit
pipi adiknya).” Kakak ini menyebalkan sekali, aku pikir ada apa? Memang kakak
baru sadar memiliki adik perempuan yang sangat manis” sambil tertawa ia pun
memukul kakaknya dengan guling.
Setelah mereka
lelah berperang, mereka pun duduk berjejer di pinggir ranjang dan Kak Benec pun
bertanya, “nah, kalau tersenyum seperti inikan terlihat kau gadis paling manis
didunia, sebenarnya aku penasaran kenapa kamu tadi pulang terambat? ”.
Suasana ramai dikamar tadi, berubah menjadi
hening. “ aku yang salah…. Ini semua salahku, gara-gara aku Sandra jadi…”
Calarisa kembali menangis terisak, “ sudah-sudah tenagkan dirimu dulu, ada apa dengan Sandra?
Kalian masih berantem?”. “gara-gara aku Sandra kecelakaan..” jawab Clarisa
sambil menangis lebih isak. “sudah, ceritakanlah dengan tenang dan perlahan”,
jawab Kak Benec dengan sabar dan memeluk adiknya.
“ sebenarnya, aku ingin minta maaf pada Sandra
seperti nasihat kakak kemarin. Tapi, ia malah makin menjauhin aku, saat aku
ajak bicara ia mengacuhkanku. Aku menjadi lelah dan males untuk minta maaf, padahal
ini bukan kesalahnku saja.(mulai tenang dan berhenti menangis) Tadi siang,
pulang sekolah Sandra kecelakaan saat naik motor. Dia nekat bawa motor, padahal
dia belum begitu mahir membawa motor. Alasanya hanya karena, tidak mau
membonceng denganku. Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri dan
meminta bantuan orang untuk membawanya ke Rumah Sakit, disana aku menunggu
orangtua Sandra datang, setelah itu aku disuruh pulang sama ibunya Sandra,
tadinya aku mau diantarkan mereka pulang untuk menjelaskan pada ayah dan ibu,
tapi aku menolak karena takut merepotkan mereka. Andai saja tadi pagi… aku mau
bersabar dan berusaha terus minta maaf, pasti kejadiannya tidak akan begini.”
Jawab Clarisa dengan perlahan-lahan.
“ baguslah…”, kata Kak Benec. “ kok bagus sih
kak? Kakak itu nggak ngerti ceritaku ya?”. “ dengarkan aku dulu, baguslah
sekarang kamu sudah sadar kalau kamu salah dan berusaha minta maaf, kamu ingat
sebuah perikop dalam Alkitab, yaitu Matius 18:22 “Yesus berkata kepadanya:
“Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kal, melainkan sampai tujuh
puluh tujuh kali.” Kamu mengerti maksudnyakan?”. Jawab dan tanya Kak Benec. “
ia Aku tahu, maksud Yesus adalah supaya kita memaafkan orang yang salah kepada
kita, bukan sekali dua kali melainkan tak terhitung. Lalu sekarang aku harus
bagaimana kak?”. Tanya balik Clarisa,
“ Sandra kecelakaan bukan salah kamu, ia telah
memilih jalan hidupnya sendiri, sebenarnya ia bisa saja ia memilih naik
kendaraan umum angkot atau busway. Besuk kita jenguk Sandra bersama-sama, dan
kamu harus siapkan diri untuk minta maaf dan siapkan diri untuk menerima
jawaban dari Sandra, tidak lantas jika besuk Dia belum menerima permintaan
maafmu. Bagaimana keadaannya tadi? Apakah sangat parah? Semoga saja dia baik.”
Kata kak Benec, “iya kak aku akan berusaha semaksimal mungkin
besuk. Dia hanya luka ringan, dan kata dokter besuk pagi dia sudah boleh pulang
kok… jadi besuk, kita jenguk di rumahnya saja”. “ iya adiku yang manis,
sekarang kamu sudah lega? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanyanya
kembali, “Aku akan meminta maaf pada ayah dan ibu, apalagi tadi aku sudah
marah-marah pada ibu”. “ baguslah kalau begitu, ayo sekalian kita makan malam”.
Mereka pun keluar kamar, di depan pintu telah
menanti ibu yang berdiri tegak dengan wajah khawatir dan sedih, “ Ibu minta
maaf ya sayang, ibu tadi terlalu panik dan khawatir padamu”, ujar Ibu pada
Clarisa. “ Ibu… aku yang salah, padahal ibu marah karena khawatir padaku, malah
aku gantian memarahi ibu” jawab
Clarisa. Mereka berdua pun berpelukan, sang ayah yang baru melihat dan sang
kakak pun hanya bisa tersenyum bahagia, melihat masalah dalam keluarga kecil
mereka kembali hangat.
Tidak ada
masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik, dan tidak ada alasan
untuk memulai meminta maaf terlebih daluhu.
Karya : Kristselia A.J



0 comments:
Post a Comment