Pages

Subscribe:

Tuesday, 22 September 2015

Cerpen Rohani

“SEBUTIR KERIKIL DALAM KELUARGA KECILKU”

Pada suatu hari Clarisa anak bungsu dari keluarga kecil Pak Nugroho terlambat pulang sekolah, orangtuanya pun merasa khawatir,  menunggunya dirumah. Setibanya gadis remaja itu dirumah, sang ibu langsung menghampiri dan bertanya dengan nada agak tinggi kepada anaknya, “ Kenapa baru pulang jam segini? dari mana saja ? Disekolahkan jauh-jauh kok sukanya keluyuran”. Sang anak yang sudah merasa lelah bersekolah jauh ke kota, ditambah peristiwa yang membuat ia terlambat pulang ke rumah, ditambah emosi ibunya yang meluap karena khawatir pun membuat perasaan gadis ini jengkel, lelah, sedih, dan ikut emosi.” Ibu itu tidak punya kata yang lebih buruk lagi ya, untuk menyambutku?’  Clarisa pun lari masuk menuju kamarnya sambil menahan air mata mengalir di wajahnya.

Sebelum sampai kekamarnya, ia bertemu dengan sang ayah di ruang tengah. “ kamu sudah pulang sayang? kami sekeluarga mengkhawatirkanmu”. Sang anakpun terhenti di pelukan sang ayah dan menangis terisak.” Loh…sebenarnya apa yang telah tejadi?”,  tanya sang ayah pada anak gadisnya itu. Clarisa tidak menjawab dan semakin memeluk erat sang ayah, dan sang ayah pun merasa anaknya masih terlalu sedih untuk menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba sang ibu datang dan sedang naik pitam mendengar jawaban sang anak tadi. Namun setelah melihat anaknya menangis terisak dipelukan sang ayah pun, membuatnya tenang dan sedikit meredam amarahnya.

Setelah Clarisa lega dan berhenti menangis, ia melepaskan pelukan erat pada ayahnya. “ sekarang masuk kamar dan mandilah kami akan menunggumu di meja makan, untuk makan malam” kata sang ayah, sambil menatap hangat anaknya. “ maaf ayah, aku tidak lapar dan lelah, aku ingin segera istirahat setelah mandi”, jawab Clarisa. “ hai apa maksudmu berkata se..” sahut ibu yang mulai naik pitam lagi, “ stttt, tenanglah sayang biarkan anak kita beristirahat dan menenangkan diri, sudah lekas mandi sayang ini semakin larut”. Clarisa pun meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar.

Di ruang keluarga, terlihat sosok ayah dan ibu yang sedang berbincang dengan serius. “ kenapa kau terus memanjakan anak gadisku?” Tanya sang ibu dengan emosi, sebenarnya sang ibu emosi karena terlalu khawatir pada anak gadisnya itu. “ tenanglah Caecilia, dia juga gadis kecilku, yang tengah beranjak dewasa. Sehingga wajar jika ia punya masalah-masalah dalam dunia baru yang baru saja ia masuk, dia sudah SMA. Biarkanlah ia menenangkan diri dahulu. Sang ibu terdiam, setelah mendengar nasihat suaminya itu, lalu sang ayah melanjutkan berbicara setelah melihat istrinya  mulai tenang dam tidak emosi lagi. “ Aku jadi teringat sebuah berita di koran, seorang janda hidup dan tinggal besama anak gadis kecil sematawayangnya yang baru berusia kurang lebih 5 tahun. Mereka adalah keluarga yang tidak mampu, sang ibu hanya bekerja sebagai tukang kue keliling pada pagi ia membuat kue dan pada siang hari ia menjualnya hingga petang atau malam hari, sampai kuenya terjual habis. Penghasilan itu hanya cukup untuk menyewa kontrakan kecil dan makan mereka sehari-hari.

Suatu hari dimusim dinging, salju sudah mulai turun dengan lebat, siang itu sang ibu yang sudah lelah membuat kue hendak berangkat berjualan, namun ia mencari gadis kecilnya. Karena, biasanya sang anak ikut berkeliling dengannya. “ mana gadis kecil itu? Tidak tahu apa ibunya sudah sangat lelah setiap hari membuat kue dan hendak berjualan untuk mencari makan demi dia. Pasti sekarang ia sedang asyik bermain dengan teman-temanya, dasar tidak tahu diri.” Sang ibu pun mengumpat karena emosi dengan gadis kecilnya itu,

 Kemudian karena marah sang ibu pun mengunci pintu rumah mereka, padahal salju sudah turun. “ rasakan, dasar anak nakal akan ku beri pelajaran untukmu”. Pada malam hari, setiba sang ibu di rumah setelah pulang berjualan Ia terperanjak kaget bukan main. Melihat ada sesok tubuh gadis kecil yang kaku terbaring di depan pintu rumahnya, sang ibu pun langsung berlari dan memeluk gadis itu erat untuk menghangatkannya, karena ia tahu gadis itu adalah anaknya. Namun sang ibu telambat datang, anaknya sudah tiada.

 Dan sang ibu pun menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu, berharap gadisnya hanya tertidur. Tiba-tiba ada sebuah bungkusan terjatuh dari katung baju anaknya, ia membuka benda yang dibungkus dengan Koran itu, dan berisi sebuah roti kesukaan sang ibu. Roti itu biasa mereka beli, saat ada uang lebih. Dan ada lagi secarik kertas yang bertuliskan “ selamat ulang tahun ibu “, dengan huruf kanji yang ditulis masih berantakan, sang ibu tahu bahwa itu adalah tulisan anaknya yang masih kecil.

 Sang ibu pun menangis terisak, melihat anaknya yng meninggal karena amarahnya. Padahal anak itu pergi untuk membeli dan menyiapkan hal manis itu untuknya. Sayang, kamu tahu apa makna dari kisah itu? Mengapa aku menceritakannya kembali padamu?”. Tanya sang ayah pada istrinya, Ibu Caecil hanya terdiam dan tak lama kemudian ia mulai menitihkan air mata. “ aku hanya khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis kecil kita, aku sadar aku salah harusnya aku tidak terpancing emosi dahulu tadi”. “ tidak apa-apa sayang,  kita hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna, kita di pertemukan oleh Tuhan untuk saling menjaga dan melengkapi kekurangan masing-masing”, jawab sang ayah dengan bijak.” Sayang terimaksih banyak, untung saja kamu tadi menahanku kalau tidak pasti aku menjadi ibu yang lebih buruk dari ibu yang tadi” kemudian sang ayah pun memeluk dan mencium kening istrinya, karena ia bahagia istrinya dapat mengerti perasaannya dan anaknya.” Sekarang aku akan ke kamar Clarisa dan meminta maaf”, kata sang ibu yang sekarang merasa menyesal telah menuduh anaknya.

Di kamar Clarisa, ia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat sang kakak laki-laki telah berbaring di ranjangnya. “aku tadi mendengar, suara pintu kamarmu terbuka dan langsung tertutup jadi aku tahu, pasti adik manisku ini pasti sudah pulang”, kata Benecditus kakak laki-laki Clarsa. “pasti kau juga mendengar saat aku bertengkar dengan ibu dan menangis tadi”, jawab Clarisa yang masih kesal. “aku tidak peduli kau habis bertengkar dengan siapa, yang terpenting sekarang adalah kau telah pulang ke rumah dengan selamat dan tak berkekurangan apa pun, tunggu dulu…..” ( hening sejenak)” ada apa kak?”, Tanya Clarisa bingung, “ kau…kau…( sambil beranjak dari kasur dan mendekati adiknya) kau… tambah manis saja setelah menangis”( sambil mencubit pipi adiknya).” Kakak ini menyebalkan sekali, aku pikir ada apa? Memang kakak baru sadar memiliki adik perempuan yang sangat manis” sambil tertawa ia pun memukul kakaknya dengan guling.

Setelah mereka lelah berperang, mereka pun duduk berjejer di pinggir ranjang dan Kak Benec pun bertanya, “nah, kalau tersenyum seperti inikan terlihat kau gadis paling manis didunia, sebenarnya aku penasaran kenapa kamu tadi pulang terambat? ”.

 Suasana ramai dikamar tadi, berubah menjadi hening. “ aku yang salah…. Ini semua salahku, gara-gara aku Sandra jadi…” Calarisa kembali menangis terisak, “ sudah-sudah  tenagkan dirimu dulu, ada apa dengan Sandra? Kalian masih berantem?”. “gara-gara aku Sandra kecelakaan..” jawab Clarisa sambil menangis lebih isak. “sudah, ceritakanlah dengan tenang dan perlahan”, jawab Kak Benec dengan sabar dan memeluk adiknya.

 “ sebenarnya, aku ingin minta maaf pada Sandra seperti nasihat kakak kemarin. Tapi, ia malah makin menjauhin aku, saat aku ajak bicara ia mengacuhkanku. Aku menjadi lelah dan males untuk minta maaf, padahal ini bukan kesalahnku saja.(mulai tenang dan berhenti menangis) Tadi siang, pulang sekolah Sandra kecelakaan saat naik motor. Dia nekat bawa motor, padahal dia belum begitu mahir membawa motor. Alasanya hanya karena, tidak mau membonceng denganku. Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri dan meminta bantuan orang untuk membawanya ke Rumah Sakit, disana aku menunggu orangtua Sandra datang, setelah itu aku disuruh pulang sama ibunya Sandra, tadinya aku mau diantarkan mereka pulang untuk menjelaskan pada ayah dan ibu, tapi aku menolak karena takut merepotkan mereka. Andai saja tadi pagi… aku mau bersabar dan berusaha terus minta maaf, pasti kejadiannya tidak akan begini.” Jawab Clarisa dengan perlahan-lahan.

 “ baguslah…”, kata Kak Benec. “ kok bagus sih kak? Kakak itu nggak ngerti ceritaku ya?”. “ dengarkan aku dulu, baguslah sekarang kamu sudah sadar kalau kamu salah dan berusaha minta maaf, kamu ingat sebuah perikop dalam Alkitab, yaitu Matius 18:22 “Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kal, melainkan sampai tujuh puluh tujuh kali.” Kamu mengerti maksudnyakan?”. Jawab dan tanya Kak Benec. “ ia Aku tahu, maksud Yesus adalah supaya kita memaafkan orang yang salah kepada kita, bukan sekali dua kali melainkan tak terhitung. Lalu sekarang aku harus bagaimana kak?”. Tanya balik Clarisa,

 “ Sandra kecelakaan bukan salah kamu, ia telah memilih jalan hidupnya sendiri, sebenarnya ia bisa saja ia memilih naik kendaraan umum angkot atau busway. Besuk kita jenguk Sandra bersama-sama, dan kamu harus siapkan diri untuk minta maaf dan siapkan diri untuk menerima jawaban dari Sandra, tidak lantas jika besuk Dia belum menerima permintaan maafmu. Bagaimana keadaannya tadi? Apakah sangat parah? Semoga saja dia baik.” Kata kak Benec, “iya kak aku akan berusaha semaksimal mungkin besuk. Dia hanya luka ringan, dan kata dokter besuk pagi dia sudah boleh pulang kok… jadi besuk, kita jenguk di rumahnya saja”. “ iya adiku yang manis, sekarang kamu sudah lega? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanyanya kembali, “Aku akan meminta maaf pada ayah dan ibu, apalagi tadi aku sudah marah-marah pada ibu”. “ baguslah kalau begitu, ayo sekalian kita makan malam”.

 Mereka pun keluar kamar, di depan pintu telah menanti ibu yang berdiri tegak dengan wajah khawatir dan sedih, “ Ibu minta maaf ya sayang, ibu tadi terlalu panik dan khawatir padamu”, ujar Ibu pada Clarisa. “ Ibu… aku yang salah, padahal ibu marah karena khawatir padaku, malah aku gantian memarahi ibu” jawab Clarisa. Mereka berdua pun berpelukan, sang ayah yang baru melihat dan sang kakak pun hanya bisa tersenyum bahagia, melihat masalah dalam keluarga kecil mereka kembali hangat.


Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik, dan tidak ada alasan untuk memulai meminta maaf terlebih daluhu.


Karya  : Kristselia A.J

0 comments:

Post a Comment